Bayangan di Balik Forum Warga

aktualita.id
Ilustrasi forum warga. Foto: Istimewa

SORE itu, di sebuah pelataran musholah, kita duduk membentuk lingkaran rapat di antara dinding tembok perumahan. Orang-orang berdatangan, sebagian membawa air mineral, sebagian lagi membawa segenggam rasa penasaran: kabar burung tentang perpecahan sedang hangat dibicarakan.

Tak ada yang menduga, di forum yang mestinya menjadi ruang berbagi pikiran, justru kata-kata kotor disematkan, tuduhan dilemparkan, bahkan ancaman diucapkan lantang tanpa gentar.

Di tengah kerumunan, seorang warga berbincang arogan. Ia bukan siapa-siapa selain bagian dari kampung itu sendiri. Ia menyampaikan pendapat, menolak menunduk pada kesepakatan.

Namun siapa sangka, lidah bisa lebih tajam dari sebilah belati: kata ‘bodoh’ digeser-geser untuk menciptakan rasa takut, seolah-olah berbeda pandangan adalah dosa besar.

Yang lebih getir, tuduhan diteriakkan tanpa bukti. Bisik-bisik tentang suap beredar seolah angin malam, padahal tangan yang menuduh tak pernah mampu menunjukkan jejaknya.

Bahkan tak sedikit yang lupa, di tengah panasnya debat, ada mulut yang berani mengancam nyawa orang lain.

Sebagian warga pulang dengan wajah letih. Mereka gelisah, melihat kebenaran dibalik-balik menjadi bualan. Tapi waktu punya caranya sendiri untuk membedakan suara waras dari gaduh yang menyesatkan.

Pelajaran dari Sebuah Malam

Di desa ini, orang-orang perlahan sadar, fitnah bisa lahir dari mereka yang lihai memelintir kata. Namun, tak selamanya kebohongan punya kaki panjang.

Orang yang ringan mulut menuduh, cepat atau lambat akan bertemu kenyataan: hukum sosial dan moral tak pernah tidur. Lidah yang menebar fitnah pasti bertemu cermin, di mana suara-suara dusta memantul kembali.

Bagi warga yang terancam, langkahnya tetap tegak. Tak ada intimidasi yang mampu mematahkan keberanian orang yang menjaga kebenaran.

Bagi warga yang ragu, malam itu jadi pengingat: selagi hati masih mau tabayyun, dusta akan kalah.

Bagi yang gemar memfitnah, cukup satu pesan: kampung ini boleh saja kecil, tapi ingatan orang-orangnya panjang. Tak ada fitnah yang bertahan lama tanpa berbalik menggigit penebarnya.

Sebait Harap
Lewat sepotong forum itulah orang belajar, demokrasi bukan medan caci maki. Musyawarah bukan panggung ancaman. Dan kata ‘komunis’ atau ‘suap’ bukan barang dagangan untuk menakut-nakuti siapa pun.

Karena di kampung ini, orang boleh berbeda cara berpikir — tapi satu hal pasti: kebenaran akan selalu menemukan jalannya pulang.

Oleh : Adi Cahyo

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Terpopuler
Berita Terbaru