SURABAYA (Aktualita)- Banjir masih jadi momok menakutkan di Surabaya. Belakangan Surabaya mudah kebanjiran saat hujan, seperti ketika turun hujan selama dua jam, Kamis (10/3/2022) malam lalu, banjir langsung menyergap Jalan Frontage A Yani, Gayungan.
Baca juga: Surabaya Diterjang Hujan Es dan Angin Kencang
Banjir yang menggenangi jalan utama masuk Kota Pahlawan itu terukur setinggi lutut orang dewasa sejauh 1,5 KM. Yaitu dari sejak dari depan Polda Jatim hingga depan Kantor Kejati Jatim.
Ketinggian genangan itu memaksa kendaraan roda dua dan empat melambat karena beresiko mogok. Semua terjadi setelah hujan lebat disertai angin sekitar pukul 18.00 WIB sampai 20.00 WIB.
Akibatnya, debit air yang yang harus ditampung saluran air di kawasan Surabaya Selatan melubar dan menyebabkan banjir. Banjir yang terjadi di empat ruas jalan frontage tersebut, juga terjadi di area parkir Universitas Bhayangkara Surabaya, di sisi kiri dengan Polda Jatim.
Banjir di jalanan tersebut malah terpantau lebih parah di kawasan Jalan Ketintang Baru III, Ketintang, Gayungan, Surabaya. Permukaan air malah menenggelamkan roda mobil jenis sedan yang nekat menerabas ruas jalan kawasan tersebut.
Untuk menanggulangi masalah ini, Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Penanggulangan Banjir terus dimatangkan. Pembahasan Raperda oleh panitia khusus (Pansus), mengundang pakar dari ITS, pakar hukum, serta pimpinan Komisi C DPRD Surabaya, sebagai pengusul Raperda.
Dalam pembahasan tersebut, muncul beberapa masalah penting dalam penanggulanggan banjir di Surabaya, yang nantinya bisa tertangani melalui perda tersebut.
Baca juga: Hujan Angin di Surabaya, Pohon Roboh Menimpa Minibus di Jl.Mayjend Sungkono
"Di antaranya soal pentingnya koordinasi antara Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Jasa Tirta dan pemerintah kota Surabaya selaku stake holder," ujar Aning Rahmawati, Wakil Ketua Komisi C pada Kamis (24/3).
Aning menambahkan, koordinasi ini penting dilakukan untuk menjaga elevasi sungai Brantas. Selain untuk suplai sebagai bahan baku air PDAM, elevasi sungai Brantas terkadang menyebabkan banjir.
"Selain itu koordinasi juga berkaitan dengan aliran air sungai Brantas dari hulu seperti Mojokerto dan daerah lainnya, yang masuk ke Surabaya," imbuhnya.
Politisi PKS tersebut menambahkan, dari pembahasan tersebut terungkap jika para tenaga ahli sudah punya data dan memetakan titik-titik yang selama ini rawan banjir dan penyebabnya.
Baca juga: Banjir Setinggi Paha Orang Dewasa Genangi Kawasan Kodam V Brawijaya, Surabaya
"Ada hal menarik yang disampaikan tenaga ahli tentang wacana peta digital nyambung dengan peta lidar yang dulu digagas pak wali saat jadi Kepala Bapeko. Ke depan seluruh pengembang diwacanakan wajib up date pembuatan sistem drainasenya melalui peta lidar," ungkap Aning.
Peta Lidar merupakan Peta citra yang berwujud peta tiga dimensi digital. Menggambarkan kontur dan topograsi Surabaya, sekaligus seluruh dimensi saluran di Surabaya. Sehingga bisa di update data dimensi salurannya secara digital.
Aning kembali mengatakan Raperda Penanggulangan Banjir tidak hanya sebagai sebagai untuk solusi banjir di Surabaya. Melainkan juga soal bagaimana pengelolaan potensi air.
"Wacana untuk memanen air yang bertujuan memanfaatkan potensi air, sekaligus mengatasi banjir. Karena para tenaga ahli memprediksi ketersediaan air akan langka dikemudian hari," pungkasnya.ika
Editor : Redaksi