SURABAYA (Aktualita)- Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jatim menghentikan proses penyelidikan perkara dugaan Tindak Pidana penipuan dan atau penggelapan dan atau pemalsuan surat yang dilaporkan Hermanto Oerip terhadap Soewando Basoeki. Penyidik menegaskan tidak menemukan adanya unsur pidana dalam laporan tersebut.
Sebelumnya, laporan Hermanto Oerip terhadap Soewondo Basoeki diterima dengan nomor: LPB/1469/X/2025/SPKT/POLDA JAWA TIMUR tanggal 14 Oktober 2025 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 492 KUHP dan atau Pasal 486 KUHP dan atau Pasal 391 KUHP.
Baca Juga: Diduga Jadi Korban Pengeroyokan, Warga Lapor ke Polisi, Kuasa Hukum Minta Kasus Diusut Tuntas
Kuasa hukum Soewondo Basuki yakni Prof Dr. KPHA. Tjandra Sridjaja Pradjonggo, SH, MH mengatakan bahwa pihaknya mengapresiasi langkah tegas yang dilakukan penyidik Direskrimum Polda Jatim karena menghentikan penyelidikan perkara ini.
Menurut Prof Tjandra, dengan langkah tegas penyidik yang menghentikan Penyelidikan perkara ini maka penyidik tidak memberikan kesempatan pada para pihak yang ingin mempermainkan hukum.
" Bahwa berdasarkan hasil gelar perkara terhadap hasil penyelidikan yang dilaksanakan oleh penyidik diputuskan status peristiwa yang dimuat dalam hasil penyelidikan bukan merupakan tindak pidana. Maka perkara ini dihentikan penyelidikannya. Dan saya sangat mengapresiasi langkah penyidik ini. Karena sejak awal saya mengatakan bahwa laporan Hermanto Oerip ini adalah laporan abal-abal dan beritikad buruk, itu hanya upaya dia untuk mengalihkan saja perkara pidana yang menjeratnya dan saat ini dalam proses persidangan," beber Prof Tjandra.
Prof Tjandra mengatakan, adanya itikad buruk pelapor tersebut merujuk pada hasil gelar perkara di Polda Jawa Timur yang menyebut perkara tersebut sebelumnya telah diperiksa oleh Bareskrim Polri maupun Pengadilan dengan Putusan inkracht.
Menurut Prof Tjandra, Bareskrim telah mengeluarkan surat resmi yang menyatakan transaksi jual beli yang dilakukan Soewondo atas kompensasi utang dari Hermanto Oriep merupakan perbuatan yang sah dan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bahkan, aset yang sempat diblokir Bareskrim karena diduga terkait investasi Nikel bodong Venansius Naek dan Hermanto Oerip yang merugikan banyak orang.
“Namun faktanya, perkara ini sudah diputus hingga Kasasi dan Peninjauan Kembali. Dalam Pertimbangan Hukum putusan, majelis hakim Agung justru menyatakan pihak yang beritikad buruk adalah Hermanto Oerip dan Menghukum pidana penjara Venansius Naek 1,5 tahun penjara,” kata Prof Tjandra.
Atas dasar itu, jaksa memberikan petunjuk kepada penyidik untuk menetapkan Hermanto Oriep sebagai tersangka.
Baca Juga: Polda Jatim Dorong Pemanfaatan AI untuk Keamanan Publik Melalui KREAFEST 2026
“Prosesnya memang lama dan berbelit, tetapi saat ini perkaranya sudah diperiksa di Pengadilan Negeri Surabaya,” ujar pengacara senior ini.
Terkait kuitansi senilai Rp15 miliar yang dipersoalkan dalam perkara rumah, Tjandra menegaskan bahwa kuitansi tersebut bukan bukti jual beli atau kontrak oleh Soewondo. “Kuitansi itu tulisan tangan Hermanto Oriep sendiri yang kemudian dilanjutkan dengan pembuatan Akta dihadapan Maria Tjandra Notaris/PPAT,” katanya.
Ia menjelaskan, transaksi tersebut merupakan bentuk kompensasi pembayaran utang sebagaimana diatur dalam Pasal 1425 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Dalam ketentuan itu, pertemuan utang piutang antara dua pihak yang sama menyebabkan saling meniadakan.
“Dengan akta otentik, isinya dianggap benar dan menjadi bukti sempurna. Jika ada pihak yang menyangkal, maka pihak itulah yang wajib membuktikan,” tegasnya.
Prof Tjandra juga mengungkapkan bahwa perusahaan yang digunakan Hermanto Oriep hanya untuk tameng penipuan yang hanya sekitar dua bulan. Setelah itu terungkap adanya pembuatan bill of lending palsu, faktur penjualan palsu, serta penarikan dana perusahaan oleh Hermanto Oriep bersama anaknya Vensensius, Istrinya dan drivernya menggunakan 153 lembar cek BCA kerugian dr. Suwondo diperkirakan Rp.146 M yang dalam persidangan disebutkan Rp.75 M temuan Penyidik.
Baca Juga: Diduga Lakukan Pemerasan, Polres Pasuruan Kota Amankan 4 orang Debt Collector
“Laporan yang dibuat Hermanto ini kami nilai hanya untuk menutupi kesalahannya sendiri dan memperpanjang perkara pidana yang sedang diperiksa di PN Surabaya,” kata Prof Tjandra.
Ia menambahkan, satu perkara tidak boleh diperiksa dua kali karena bertentangan dengan norma hukum. “Masalah ini sudah diperiksa di Bareskrim dan dinyatakan sah. Namun kemudian dimunculkan lagi tudingan pemalsuan surat, padahal sebelumnya sudah ada akta autentik,” ujarnya.
Dalam putusan Mahkamah Agung yang telah berkekuatan hukum tetap, lanjut Tjandra, ditegaskan bahwa perbuatan melawan hukum dengan Pertambangan Nikel Bodong diduga dilakukan oleh Hermanto Oriep (otak intelektualnya) termasuk pengambilan uang tanpa persetujuan dan pembuatan surat-surat palsu.
“Itu tegas disebutkan dalam putusan inkracht pertimbangan majelis hakim agung kasasi dan Peninjauan Kembali. Semoga Vensensius Putra Hermanto sebagai generasi muda Sadar dan Bertobat," ujarnya. (ano)
Editor : Redaksi