Otokritik untuk Rumah Sendiri: Menimbang Tri Prakoso dan Sri Rahayu di Tengah PA GMNI yang Belum Selesai dengan Dirinya

avatar Redaksi
Kami menyaksikan beberapa kenyataan yang perlu diakui. Pertama, PA GMNI belum memiliki program kerja yang jelas.
Kami menyaksikan beberapa kenyataan yang perlu diakui. Pertama, PA GMNI belum memiliki program kerja yang jelas.

Oleh: Dodi Indra Kusuma, S.H.- 

SEBELUM berbicara tentang siapa yang layak memimpin, kita perlu jujur tentang rumah yang akan dipimpin. Persatuan Alumni GMNI Jawa Timur sedang bersiap memilih kepengurusan periode 2026/2031, tetapi ada pertanyaan yang tidak nyaman: seperti apa kondisi rumah ini hari ini? Tulisan ini lahir dari kecintaan, bukan kebencian. Seorang alumni yang mencintai organisasinya wajib berani mengkritik.

Baca Juga: Rumah Besar yang Kehilangan Pamong: Harapan pada Tri Prakoso dan Sri Rahayu untuk PA GMNI Jatim

 

Otokritik: Kita Belum Selesai dengan Diri Sendiri

Kami menyaksikan beberapa kenyataan yang perlu diakui. Pertama, PA GMNI belum memiliki program kerja yang jelas. Alumni sering mendengar semangat, tetapi jarang melihat peta kerja: apa sasaran tahun ini, siapa yang bertanggung jawab, bagaimana mengukur hasilnya. Kedua, ruang bicara kita lebih sering dipenuhi nostalgia dan saling sindir ketimbang gagasan. Ketiga, GMNI di Jawa Timur terbelah, dan di Surabaya pun demikian. Keempat, PA GMNI belum memiliki sekretariat bersama, sebuah rumah fisik tempat alumni bertemu, menyimpan arsip, dan menjalankan administrasi.

Keempat hal itu saling terkait. Tanpa sekretariat, organisasi tidak punya pusat kerja. Tanpa program, tidak ada ukuran keberhasilan. Tanpa kesediaan berdamai, perpecahan menyedot energi yang seharusnya dipakai untuk kader dan masyarakat. Sebagai alumni dari Lamongan, kami merasakan akibatnya: kader di daerah kehilangan arah dan tidak tahu ke mana harus berlabuh.

Karl Popper mengajarkan bahwa masyarakat yang sehat adalah yang bersedia mengakui kesalahan dan memperbaikinya secara bertahap. Ia menyebutnya piecemeal engineering, perbaikan sedikit demi sedikit yang terus diuji. Otokritik adalah langkah pertamanya. Organisasi yang tidak mau mengkritik dirinya sendiri sedang menuju keadaan tertutup, di mana kritik dianggap pengkhianatan dan loyalitas lebih dihargai daripada kebenaran.

 

Mengapa Kepemimpinan Kali Ini Menentukan

Dalam kondisi seperti itu, yang dibutuhkan bukan sekadar ketua yang populer, melainkan pemimpin yang mampu merajut. Ada tiga tugas mendesak. Pertama, merumuskan program kerja yang terukur. Kedua, mempertemukan kubu-kubu yang berjarak, tanpa memaksakan keseragaman. Ketiga, menghadirkan sekretariat bersama yang nyata sebagai pusat kerja, tata kelola, dan arsip organisasi. Ketiganya adalah ujian yang bisa diperiksa publik alumni.

Di sinilah kami membaca dua nama : Tri Prakoso, S.H., M.H.P. dan Dra. Sri Rahayu. pada berita dan informasi yg bertebaran tema "Gotong Royong Mewujudkan PA GMNI yang Berdikari secara Ekonomi dan Berdaulat secara Politik", mereka menjanjikan arah yang tepat. Tetapi slogan hanyalah hipotesis. Kita perlu memeriksa apakah rekam jejak keduanya memberi dasar untuk percaya.

 

Tri Prakoso: Pemikir, Pengusaha, dan Dekat dengan Santri

Tri Prakoso adalah praktisi hukum, pengusaha sektor energi, aktivis, dan penulis opini asal Jawa Timur. Ia alumnus Fakultas Hukum Universitas Jember dan Universitas Airlangga, berlatar ilmu hukum, ekonomi, dan geopolitik pertahanan. Akar gerakannya ada di GMNI Jember dan barisan aktivis Pro Demokrasi '98. Di dunia usaha ia menjabat Wakil Ketua Umum Migas Kadin Jawa Timur dan Sekretaris Hiswana Migas Jatim Balinus, wilayah yang membentang dari Banten hingga Nusa Tenggara Timur. Ia juga aktif dalam program kolaborasi sektor migas, pemerintah daerah, dan kegiatan lingkungan.

Sebagai penulis, ia menggarap tema lintas bidang: kritik terhadap ekonomi neoliberal, analisis business judgment rule pada kasus hukum korporasi BUMN, polemik sistem Pilkada, hingga mistisisme kekuasaan Jawa dan teosentrisme. Menurut profil yang beredar, ia berkomitmen pada Pancasila 1 Juni 1945 dan Marhaenisme. Bagi organisasi yang terjebak nostalgia, pemimpin yang rutin menguji gagasan di ruang publik adalah penyegar. Gagasan yang diterbitkan bisa dikritik, dan itulah ciri masyarakat terbuka ala Popper.

Baca Juga: Jaga Jarak dari Kekuasaan, GMNI Jember Pilih Menolak Konsolidasi Akbar

Kami juga mencatat kedekatannya dengan kalangan santri. Di pantura Lamongan dan banyak daerah Jawa Timur lain, pesantren adalah pusat moral, jaringan sosial, dan penggerak ekonomi umat. Pemimpin yang akrab dengan dunia itu memiliki peluang menyambungkan nasionalisme dan religiusitas, dua arus yang sama-sama membentuk Indonesia. Dalam kondisi organisasi yang terbelah, kemampuan menjembatani kelompok berbeda adalah modal yang amat berharga, selama dirawat dengan kerja dan bukan dijadikan simbol.

 

Sri Rahayu: Ketelitian, Integritas, dan Keikhlasan

Dra. Sri Rahayu adalah politisi senior dan alumni GMNI Malang yang dikenal tekun, teliti, dan berintegritas. Ia lulusan IKIP Negeri (UM) Malang dan berkiprah di ranah legislatif daerah maupun nasional. Pada Pemilu 2024, ia terpilih sebagai caleg DPR RI dari dapil Jawa Timur VI dengan perolehan sekitar 111 ribu suara, tetapi mundur menjelang pelantikan, dan kursi itu beralih kepada Romy Soekarno, cucu Bung Karno.

Dalam khazanah Jawa, sikap melepaskan yang menjadi hak kita disebut semeleh. Ora kabeh manungso gelem nglakoni iku. Alasan di balik keputusannya bisa dibaca beragam, dan ini adalah pembacaan kami. Namun bagi organisasi yang lelah oleh perebutan posisi, figur yang pernah melepas kursi besar membawa pesan yang kuat. Peran sekretaris menuntut hal serupa: bekerja di balik layar, menata administrasi, dan menjaga agar organisasi berjalan tertib. Dan tugas pertama sekretaris yang mendesak adalah mewujudkan sekretariat bersama yang selama ini belum ada.

 

Ujian yang Semestinya Mereka Jawab

Baca Juga: Karhutla Berulang sebagai Cermin Kegagalan Tata Kelola Pemerintahan Prabowo

Kami berharap pembacaan kami ini tidak hanya dinilai dari profil, tetapi dari program yang dapat diperiksa. Kami mengusulkan beberapa ujian. Dalam seratus hari pertama, publikasikan program kerja tertulis dengan sasaran dan penanggung jawab. Wujudkan sekretariat bersama sebagai pusat tata kelola dan arsip. Bukalah dialog dengan seluruh kelompok alumni di Jawa Timur dan di Surabaya tanpa syarat, karena gotong royong tidak bisa dimulai dengan eksklusi. Rintis distribusi kader ke berbagai sektor, dari pemerintahan, usaha, koperasi, hingga profesi, supaya kaderisasi berjalan seiring penguatan ekonomi kader. Terakhir, terapkan aturan benturan kepentingan yang jelas agar kedekatan dengan dunia usaha dan politik tidak mengaburkan kemandirian organisasi.

Steven Pinker, dalam Enlightenment Now, mengingatkan bahwa kemajuan lahir dari nalar, sains, dan kerja sama, serta bahwa tribalisme adalah musuh akal sehat. Organisasi yang terbelah menjadi kubu-kubu sedang memelihara tribalisme itu. Untuk berdikari secara ekonomi dan berdaulat secara politik, kita harus lebih dulu berdaulat atas ego kita sendiri.

 

Penutup

Kami tidak sedang mengkultuskan siapa pun. kita adalah manusia dengan kelebihan dan batas, dan siapapun juga harus siap dikritik. Tetapi dari rekam jejak yang ada, kami melihat kombinasi yang menjanjikan: Tri Prakoso dengan gagasan, jaringan usaha, dan kedekatan dengan santri; sedangkan Sri Rahayu dengan ketelitian, integritas, dan pengalaman kebijakan. Itu modal awal. Sisanya adalah kerja.

Rumah ini memang belum selesai. Tetapi rumah yang belum selesai bukan rumah yang gagal, selama penghuninya mau jujur, mau menambal, dan mau membangun bersama.

Advocate dan Alumni GMNI Lamongan

Berita Terbaru