CIREBON (Aktualita) - Keluarga mantan Bupati Cirebon Sunjaya Purwadi Sastra tak terima keluarganya disangkutpautkan dengan kasus pembunuhan Vina Cirebon. Pihak keluarga pun memberikan klarifikasi terkait narasi yang diduga mengaitkan dengan keluarga mereka. Keluarga Sunjaya tak terima sosok bernama Andi dikaitkan dengan salah satu anak pasangan Sunjaya dan Ayu. Seperti diketahui DPO kasus Vina Cirebon yang dirilis polisi adalah Pegi, Dani, dan Andi. Melalui istrinya, Wahyu Tjiptaningsih memberikan klarifikasi terkait tudingan anak kandungnya terlibat dalam pembunuhan Vina Cirebon pada 2016 silam.
Baca juga: Tiga Mayat dalam Waktu Singkat: Misteri yang Mengguncang Jombang
Wahyu Tjiptaningsih juga mantan Wakil Bupati Cirebon periode 2019 - 2024. Dia membantah tudingan yang ramai dialamatkan publik kepada salah satu putranya. Lewat fitur balasan komentar di postingan Instagramnya, Minggu (19/5/2024) Wahyu Tjiptaningsih menegaskan tidak ada sangkut pautnya terhadap kasus Vina Cirebon.
"Waduh bangun tidur udah rame gini, punten mas dan mba terima kasih udah mampir ke instagram saya, sekali lagi saya ingin klarifikasi perihal kasus Vina yang sedang hangat, bahwa saya dan keluarga tidak ada sangkut paut sama sekali dengan kasus tersebut," tegasnya.
Lebih Jauh HJ Wahyu Tjiptaningsih menyabut jika anaknya tidak ada bernama Dani atau Andi seperti yang dikaitkan dengan DPO Kasus Vina tersebut.
"Mungkin netizen menyangkutpautkan dengan anak saya yang bernama Ramadhani @Ramadanisastra, yang ada kemiripan nama namun saya tegaskan sekali lagi, Dani yang tertera dalam DPO kasus Vina bukan anak saya," tuturnya.
Sementara di tempat terpisah, kuasa hukum keluarga Vina, Hotman Paris Hutapea, menanggapi isu yang menyebut orang tua salah satu buronan pembunuh Vina adalah mantan bupati. Hotman Paris mendesak penyidik Polda Jabar untuk bergerak cepat dan menyelidiki kebenaran rumor tersebut.
"Semakin terkuak kasus Vina Cirebon, apakah benar yang DPO itu anak seorang mantan bupati," ucap Hotman Paris di Instagram pada Sabtu (18/5/2024) dikutip dari kompas.tv. "Ayo penyidik segera turun ke lapangan, panggil mantan bupatinya," kata Hotman Paris.
"Apakah benar salah satu pelaku yang DPO anak mantan bupati? Sudah viral di mana-mana." imbuhnya. Jika isu tersebut benar adanya, Hotman Paris meminta penyidik untuk langsung menyita seluruh ponsel milik anggota keluarga sang mantan bupati. "Ayok jemput malam ini juga, Langsung sita semua HP-nya," imbuhnya. Namun hingga berita ini diturunkan belum diketahui identitas mantan bupati yang dimaksud Hotman Paris.
Baca juga: Diduga Aniaya Mahasiswa UWKS, Finalis Cak dan Ning Surabaya Dipolisikan
25 orang diperiksa
Pemerintah Desa Banjarwangunan, Kecamatan Mundu, Cirebon diketahui telah mengantongi 25 nama yang memiliki kesamaan dengan nama para pelaku pembunuhan Vina. Diketahui Pegi atau Egi, Andi, dan Dani beralamat Desa Banjarwangunan, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon. Dikonfirmasi hal ini, Kepala Desa Banjarwangunan, Sulaeman, menyampaikan pemdes bersama kepolisian telah melakukan pengecekan mendalam terhadap nama-nama tersebut.
"Setelah polisi merilis 3 nama pelaku berasal dari Desa Banjarwangunan, saya didampingi kepolisian juga dari Polsek dan Polres mengkroscek langsung tiga nama-nama tersebut," ujar Sulaeman saat diwawancarai di kantornya, Sabtu (18/5/2024).
Baca juga: Heboh Larangan Dokter dan Perawat Pakai Hijab
Sulaeman menjelaskan hasil pengecekan terhadap tiga nama yang dirilis oleh polisi, yaitu Egi atau Pegi, Andi dan Dani di mana hasilnya, nama Egi atau Pegi, tidak ada yang terdaftar sebagai warganya. Sementara Andi, pihaknya menemukan 15 nama yang sesuai dengan nama yang dicari polisi. Namun setelah dikroscek, 15 orang bernama Andi ini tidak sesuai dengan orang yang dicari polisi. Jika isu tersebut benar adanya, Hotman Paris meminta penyidik untuk langsung menyita seluruh ponsel milik anggota keluarga sang mantan bupati. "Ayok jemput malam ini juga, Langsung sita semua HP-nya," imbuhnya.
Namun hingga berita ini diturunkan belum diketahui identitas mantan bupati yang dimaksud Hotman Paris. "Selanjutnya ada Dani, di kami (Desa Banjarwangunan) yang bernama Dani ada 10 orang, tapi sama kaya Andi, setelah dikroscek bukan Dani yang dimaksud," jelas dia. Proses pengecekan ini, lanjut Sulaeman dilakukan dengan teliti karena melibatkan petugas kepolisian dari Polsek maupun Polres dengan mendatangi satu per satu warga yang namanya sama. Pihaknya pun tidak mendapatkan kesulitan selama melakukan kroscek.
"Karena kami datangi langsung rumahnya dan tidak sesuai dengan DPO yang dicari polisi," katanya. Namun, Sulaeman mengakui ada kesulitan dalam mencari pelaku yang dimaksud kepolisian. Kesulitannya karena polisi hanya merilis nama dan ciri-cirinya saja. Tidak ada foto, nama lengkap maupun alamat yang detail termasuk tidak ada sketsa wajah pelaku. Sulaeman juga menyampaikan kekhawatirannya terkait nama desa yang sedikit tercoreng akibat dugaan tersebut.
"Di sisi lain, sebenarnya dengan menyertakan nama desa, desa kami sedikit tercoreng sih, karena kan masih diduga gitu. Ya mudah-mudahan saja di kami tidak ada 3 pelaku yang dimaksud polisi itu," katanya. Desa Banjarwangunan sendiri memiliki 46 RT dan 9 RW, dengan jumlah penduduk sekitar 11 ribuan dan 3 ribuan kepala keluarga. RIP
Editor : Redaksi