Skrining Masif, Surabaya Bidik Eliminasi 2030

Reporter : Redaksi
Salah satunya melalui pemeriksaan HIV yang telah menjangkau 99.437 orang dengan persentase penemuan kasus sebesar 0,82 persen.

aktualita.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memperkuat strategi penemuan kasus dan pengobatan HIV/AIDS, tuberkulosis (TBC), serta malaria. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mencapai target eliminasi ketiga penyakit menular itu pada 2030.

Sejumlah capaian program sepanjang 2026 menjadi modal bagi Kota Pahlawan untuk mempercepat penanggulangan penyakit. Salah satunya melalui pemeriksaan HIV yang telah menjangkau 99.437 orang dengan persentase penemuan kasus sebesar 0,82 persen.

Pemeriksaan tersebut dilakukan melalui perluasan layanan di puskesmas, rumah sakit, dan klinik, termasuk skrining aktif terhadap kelompok berisiko.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, dr. Billy Daniel Messakh, menjelaskan bahwa strategi penanganan HIV/AIDS tidak berhenti pada pemeriksaan. Pemkot juga menyediakan konseling, pengobatan antiretroviral (ARV), pencegahan penularan dari ibu ke bayi, serta pemberian makanan tambahan bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Sementara dalam penanggulangan TBC, pelacakan kasus secara masif dilakukan melalui 63 puskesmas. Hingga Oktober 2026, capaian penemuan kasus mencapai 78,98 persen atau sesuai target yang ditetapkan.

Upaya tersebut diperkuat dengan skrining kontak erat, pemberian terapi pencegahan, edukasi masyarakat, serta pendampingan pasien selama menjalani pengobatan.

Berbeda dengan HIV/AIDS dan TBC, Surabaya berhasil mempertahankan status eliminasi malaria tanpa adanya penularan lokal. Capaian ini didukung surveilans berkelanjutan, deteksi dini, pengendalian vektor, serta pengawasan lingkungan.

Billy menegaskan, penguatan skrining dan keberhasilan terapi menjadi faktor penting dalam mencapai target eliminasi pada 2030.

“Target kami adalah eliminasi HIV/AIDS, TBC, dan malaria pada 2030. Karena itu, penguatan layanan kesehatan, perluasan skrining dan pengobatan, peningkatan penemuan kasus, serta keberhasilan terapi terus menjadi prioritas,” tegasnya.

Selain persoalan medis, Dinkes Surabaya juga menaruh perhatian terhadap stigma dan diskriminasi yang masih dihadapi orang dengan HIV (ODHIV) maupun pasien TBC.

Menurut Billy, keberhasilan pengendalian penyakit tidak cukup hanya mengandalkan tenaga kesehatan dan fasilitas pelayanan medis. Dukungan keluarga, masyarakat, organisasi sosial, serta seluruh pemangku kepentingan diperlukan agar pasien tidak terhambat dalam mengakses pemeriksaan maupun pengobatan.

“Keberhasilan pengendalian HIV/AIDS, TBC, dan malaria membutuhkan keterlibatan semua pihak. Karena itu, kami akan terus memperkuat kolaborasi lintas sektor, meningkatkan edukasi, serta mengurangi stigma terhadap ODHIV dan pasien TBC agar target eliminasi pada 2030 dapat tercapai,” pungkasnya.

Pemkot Surabaya berharap perluasan akses pemeriksaan, kesinambungan pengobatan, dan keterlibatan masyarakat dapat mempercepat pencapaian target eliminasi ketiga penyakit tersebut. (*/wid)

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Terpopuler
Rabu, 04 Nov 2026 14:05 WIB
Senin, 02 Nov 2026 08:21 WIB
Rabu, 04 Nov 2026 17:16 WIB
Senin, 02 Nov 2026 18:01 WIB
Berita Terbaru