aktualita.id – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Komisariat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) serta Komisariat Fakultas Teknik Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menggelar Kaderisasi Tingkat Dasar (KTD) untuk memperkuat karakter, kesadaran ideologis, dan kapasitas intelektual kader dalam menghadapi tantangan transformasi ideologi di era global.
Kegiatan bertajuk "Transformasi Marhaenisme Membentuk Kader Kritis, Progresif, dan Resilien dalam Menghadapi Dinamika Global" tersebut berlangsung selama tiga hari, mulai 30 Oktober hingga 1 November 2026, di Agroedupark Universitas Tribhuwana Tunggadewi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.
Kaderisasi ini bertujuan membentuk mahasiswa yang memiliki kesadaran ideologis, pemahaman historis, kemampuan intelektual, serta komitmen perjuangan berdasarkan ajaran Marhaenisme dan nilai-nilai perjuangan Bung Karno.
Selain itu, kegiatan tersebut menjadi ruang pembentukan kesadaran kritis agar kader mampu memahami berbagai persoalan sosial, politik, dan kebangsaan di tengah perubahan global.
Ketua DPK GMNI Komisariat FISIP Untag Surabaya, Ziven Aurelino, menyatakan bahwa kaderisasi merupakan proses penting untuk membentuk mahasiswa yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki keberpihakan terhadap kepentingan rakyat.
"GMNI berupaya membentuk mahasiswa yang tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga kesadaran ideologis, kepekaan sosial, serta keberanian dalam menyikapi berbagai persoalan bangsa. Kader GMNI diharapkan mampu menjadi insan yang kritis dalam berpikir, progresif dalam bergerak, dan konsisten dalam memperjuangkan kepentingan rakyat. Sebagaimana semboyan 'Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang', GMNI percaya bahwa pemikiran harus diwujudkan melalui tindakan nyata, sementara perjuangan harus senantiasa dilandasi oleh pengetahuan, kesadaran, dan keberpihakan kepada kaum Marhaen," ujarnya.
Sementara itu, Ketua DPK GMNI Komisariat Teknik Untag Surabaya, Josh Leo, menegaskan bahwa Kaderisasi Tingkat Dasar bukan sekadar tahapan untuk memperoleh status sebagai kader GMNI, melainkan awal dari tanggung jawab ideologis dan perjuangan.
Menurutnya, mahasiswa teknik tidak boleh hanya memahami ilmu pengetahuan dari sisi mesin, angka, perhitungan, maupun penciptaan sistem. Ilmu teknik juga harus menjadi bekal untuk berpikir kritis, bekerja sistematis, menemukan solusi, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Seorang kader teknik, lanjutnya, tidak cukup hanya mampu memperbaiki sistem, tetapi juga harus berani mengkritisi sistem yang tidak berpihak kepada rakyat.
Ia mengingatkan agar organisasi tidak sekadar dijadikan tempat berkumpul, melainkan ruang belajar, perjuangan, dan pembentukan karakter.
"GMNI tidak membutuhkan kader yang hanya pandai berbicara, tetapi kader yang mampu berpikir kritis, berani bersikap, memiliki kapasitas intelektual, serta keberpihakan terhadap kaum Marhaen. Jangan sampai kita menjadi mahasiswa yang hanya ahli dalam teori, tetapi kehilangan kepekaan terhadap realitas sosial," katanya.
Melalui kaderisasi tersebut, GMNI FISIP dan Teknik Untag Surabaya berharap lahir kader yang mampu mengintegrasikan pengetahuan, kesadaran ideologis, dan tindakan nyata dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat. (*/git)
Editor : Redaksi