Kampung Pancasila Rawat Persatuan Warga

avatar Redaksi
Keberhasilan program tersebut harus terlihat dari meningkatnya partisipasi lintas kelompok masyarakat.
Keberhasilan program tersebut harus terlihat dari meningkatnya partisipasi lintas kelompok masyarakat.

aktualita.id – Keberagaman suku, agama, dan latar belakang sosial yang menjadi identitas Kota Surabaya membutuhkan upaya nyata untuk terus dirawat. Di tengah dinamika sosial dan politik yang berpotensi memicu polarisasi, program Kampung Pancasila dinilai menjadi salah satu instrumen penting untuk memperkuat persatuan dan kerukunan hingga tingkat lingkungan terkecil.

Akademisi sekaligus Anggota Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kota Surabaya, M. Isa Ansori, menegaskan bahwa Kampung Pancasila tidak boleh hanya menjadi kegiatan seremonial maupun ajang perlombaan antarkampung. Program tersebut harus mampu menghadirkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

“Kampung Pancasila harus menjadi ruang hidup di mana nilai-nilai Pancasila hadir dalam hubungan sehari-hari. Ukuran keberhasilannya bukan seberapa sering diucapkan, melainkan seberapa jauh dirasakan oleh masyarakat,” kata Isa Ansori, Kamis (5/11/2026).

Menurut Isa, kemajuan Surabaya sebagai kota metropolitan global tidak cukup hanya diukur melalui pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Lebih dari itu, keberhasilan pembangunan juga harus tercermin dari rasa aman, saling menghargai, dan kuatnya persaudaraan di tengah masyarakat.

Untuk mewujudkan lingkungan sosial yang harmonis, ia menawarkan lima agenda strategis yang perlu diterapkan dalam penguatan Kampung Pancasila.

Pertama, membangun ruang perjumpaan antarwarga melalui kegiatan bersama, seperti kerja bakti, aktivitas seni dan budaya, serta olahraga. Interaksi langsung dinilai mampu mengikis prasangka sekaligus memperkuat hubungan sosial lintas kelompok.

Kedua, menumbuhkan budaya empati dan kepedulian terhadap warga yang membutuhkan. Kelompok rentan, seperti lansia terlantar, anak putus sekolah, dan keluarga miskin, tidak boleh dibiarkan menghadapi persoalan tanpa dukungan lingkungan sekitarnya.

Ketiga, memperkuat mekanisme penyelesaian konflik melalui dialog dan mediasi. Perselisihan maupun perbedaan pendapat harus diselesaikan secara adil dengan melibatkan ketua RT/RW, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, serta kelompok perempuan.

Keempat, melibatkan generasi muda sebagai penjaga persatuan, termasuk di ruang digital. Mereka perlu memiliki kemampuan memilah informasi, menangkal berita bohong, menolak ujaran kebencian, serta tidak mudah terprovokasi isu identitas.

“Karena persaudaraan hari ini tidak hanya diuji di ruang pertemuan warga, tetapi juga di layar telepon genggam,” ujarnya.

Kelima, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya harus berperan sebagai fasilitator dan penggerak dengan melibatkan kelurahan, kecamatan, sekolah, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, serta komunitas warga.

Isa menegaskan, keberhasilan program tersebut harus terlihat dari meningkatnya partisipasi lintas kelompok, kepercayaan sosial, kepedulian terhadap warga rentan, serta kemampuan masyarakat menyelesaikan persoalan secara damai.

Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), penguatan kerukunan dinilai semakin penting. Kampung Pancasila diharapkan menjadi sistem sosial yang terus berjalan, bukan sekadar program yang diaktifkan ketika muncul persoalan.

"Toleransi itu penting, tetapi Surabaya membutuhkan empati. Bukan sekadar membiarkan orang lain menjalankan keyakinannya, tetapi bersedia menolong tetangga tanpa bertanya apa agama, suku, atau golongannya," tandasnya. (*/Jon)

Berita Terbaru

Hukum,

Prabowo Copot Listyo dari KSP

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa Keputusan Presiden (Keppres) pemberhentian Listyo telah ditandatangani Prabowo.

Peristiwa,

31 Kecamatan Bicara Gender

Pendekatan budaya diharapkan membuat pesan kesetaraan lebih mudah diterima masyarakat sekaligus mendorong keterlibatan aktif dalam pembangunan.

Hukum,

Eri Usut Dugaan Pungli Dishub

Sebelum pengaduan masuk, yang bersangkutan diketahui telah dipindahkan dari Dishub ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispursip) Kota Surabaya.